← Semua artikel

Jurnal / Cerita lapangan

Merancang Kapal Itu Mudah. Memahami Nelayan Itu Tantangan Sebenarnya: Belajar Rendah Hati dari Nelayan Balongan

Pertemuan dengan nelayan Balongan pada 2012 mengubah cara tim memahami desain, kepercayaan, dan rasa memiliki.

Ilustrasi pendamping Merancang Kapal Itu Mudah. Memahami Nelayan Itu Tantangan Sebenarnya: Belajar Rendah Hati dari Nelayan Balongan

Tahun 2012 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan kami.

Saat itu kami terlibat dalam realisasi Program Hibah Pengabdian Masyarakat dari Universitas Indonesia yang dipimpin oleh Pak Hadi Tresno Wibowo, dosen Teknik Perkapalan UI. Program ini bukan sekadar proyek akademik. Ini adalah momentum.

Sebuah kapal ikan 3 GT berbasis teknologi Kapal Pelat Datar berbahan baja, inovasi yang baru pertama kali akan benar-benar diuji di laut.

Bagi kami, ini milestone. Bagi nelayan, ini soal hidup dan mati.

Penerima hibah sudah ditetapkan : Koperasi Nelayan Mina Sejati, Desa Limbangan, Kecamatan Balongan, Indramayu yang dipimpin oleh haji Nasdiyah. Kami datang dengan penuh semangat, membawa gambar desain, hitungan stabilitas, standar perancangan, dan keyakinan bahwa teknologi adalah jawaban.

Langkah pertama dimulai dari Focus Group Discussion (FGD).

Kami duduk bersama para nelayan di Balongan. Wajah-wajah yang sehari-harinya bersahabat dengan ombak dan angin laut. Kami presentasikan desain kapal 3 GT berbahan baja itu dengan penuh percaya diri.

Belum selesai presentasi, suara mulai terdengar.

“Baja itu berat, Pak. Apa ga tenggelam nanti?.”

Beberapa mengangguk. Kekhawatiran mereka nyata. Mereka lebih memilih kayu.

Kayu itu akrab. Kayu itu mengapung. Kayu itu yang mereka percaya.

Kami menjelaskan secara teknis. Tentang perhitungan buoyancy. Tentang safety factor. Tentang standar desain. Kami yakin argumentasi kami solid.

Lalu seorang nelayan berbicara. Kalimatnya sederhana. Namun menghantam lebih keras dari data dan rumus apa pun.

Bapak boleh ahli kapal dari Jakarta, ahli dari kampus Indonesia.

Tapi yang ke laut itu kami, Pak.

Kalau ada apa-apa yang mati kami. Bukan bapak!

Sunyi.

Pernyataan mereka tak terbantahkan. 100% benar dan on point. Tidak ada rumus yang bisa menjawab itu. Tidak ada grafik stabilitas yang bisa membantahnya.

Di titik itu kami sadar: Masalahnya bukan benar atau salah. Masalahnya adalah perspektif Bagi kami, kapal ini adalah inovasi.

Bagi mereka, kapal adalah jalan kehidupan.

Sejak saat itu, kami berhenti berbicara untuk meyakinkan. Kami mulai mendengar untuk memahami. Dan ternyata setelah mendengar lebih banyak, mereka tidak menolak inovasi. Mereka hanya ingin merasa aman.

Kami mencapai kesepakatan. Struktur utama tetap baja, tetapi lantai (deck) dan ornamen kapal akan menggunakan kayu. Warna kapal mengikuti preferensi mereka.

Detail-detail kecil disesuaikan dengan kebiasaan turun-temurun yang sudah mereka pahami dan yakini.

Permintaan lain muncul dan sangat masuk akal.

“Jangan bottom V, Pak. dibuat agak datar saja bawahnya. Muara sini dangkal kalau surut. Kalau surut, kami masih bisa dorong saat kandas” Itu bukan opini. Itu pengalaman bertahun-tahun membaca karakter perairan mereka sendiri. Pengerjaan badan kapal baja dilakukan di Tangerang demi efisiensi produksi. Kasko dikirim ke Balongan melalui jalur darat. Instalasi mesin kami siapkan tim khusus dari jakarta. Namun untuk bangunan atas dan ornamen kayu, kami melibatkan para nelayan secara gotong royong. Disinilah pelajaran kedua datang.

Ketika mereka ikut membangun kapal itu, sesuatu berubah.

Kapal itu bukan lagi “kapal dari kampus”.

Kapal itu menjadi “kapal kami”.

Rasa memiliki tumbuh. Tanggung jawab tumbuh. Kepercayaan tumbuh.

Kami mendapatkan insight besar hari itu:

Teknologi tanpa penerimaan sosial adalah setengah jadi. Desain tanpa empati hanya akan menjadi gambar di atas kertas. Dan nelayan apapun tingkatan pendidikan mereka adalah ujung tombak dari sukses tidaknya kapal ini mencapai tujuannya.

Pengalaman bersama Koperasi Nelayan Mina Sejati di Balongan membuka mata kami. Melibatkan masyarakat lokal secara aktif bukan hanya soal partisipasi, tetapi tentang memastikan kapal sesuai fungsi, budaya, dan kebiasaan yang telah hidup lama, karena mereka lah yang akan menggunakan kapal ini. Tanpa mereka, inovasi secanggih apapun tidak bernilai.

Dari sanalah cikal bakal konsep Komunitas Maritim Cerdas Indonesia mulai terbentuk dalam perjalanan model bisnis kami. Sebuah pendekatan yang tidak hanya membawa inovasi, tetapi juga membawa dialog. Pendekatan yang berorientasi partisipasi aktif dan kepemilikan bersama.

Kadang kita terlalu sibuk merasa pintar. Padahal kebijaksanaan sering datang dari mereka yang sehari-hari menghadapi risiko nyata. Merancang kapal memang mudah. Memahami manusia yang akan mengoperasikannya — itulah tantangan sebenarnya.

Dan kami sungguh belajar mengenai hal itu.

dari seorang nelayan di Balongan...