Indonesia adalah negara maritim yang sesungguhnya.
Lebih dari 17.000 pulau membentang dari Sabang hingga Merauke, dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Secara geografis juga dicatat jika dua pertiga wilayah Indonesia adalah perairan yang menjadikan laut sebagai halaman depan NKRI.
Di balik hamparan laut yang luas tersebut, terdapat jutaan nelayan yang menopang ketahanan pangan dan ekonomi pesisir. Profesi nelayan sejatinya bukan sekadar mata pencaharian, melainkan salah satu profesi paling strategis bagi masa depan Indonesia.
Namun, potensi besar ini hanya dapat diwujudkan jika didukung oleh sarana dan ekosistem yang tepat, salah satunya armada kapal ikan yang andal.
Selama ratusan tahun, kapal ikan kayu menjadi tulang punggung aktivitas perikanan nasional. Namun kini, kelangkaan kayu, biaya perawatan yang tinggi, standar keselamatan yang rendah, serta keterbatasan produksi menjadi tantangan nyata. Di sisi lain, kebutuhan akan kapal ikan justru semakin naik: kebutuhan nyata akan kapal ikan yang tangguh, terjangkau, dan memiliki performa baik serta dapat diproduksi dalam jumlah besar.
Di sinilah inovasi menjadi kunci.
Kapal Pelat Datar hadir sebagai solusi alternatif yang relevan dengan kondisi saat ini.
Menggunakan material baja dan konsep desain yang sederhana, kapal pelat datar dirancang agar:
• Lebih efisien diproduksi,
• Memiliki struktur kuat dan tahan lama,
• Stabilitas yang lebih baik,
• Serta lebih mudah direplikasi secara massal.
Inovasi ini pertama kali diinisiasi oleh Bapak Hadi Tresno Wibowo (alm.), sebagai respons atas kebutuhan nyata nelayan Indonesia, sekaligus menjawab tantangan keterbatasan material kayu.
Sebagai langkah nyata untuk memasyarakatkan teknologi kapal pelat datar, telah dibangun beberapa purwarupa kapal ikan baja. Mulai dari ukuran 3 GT sampai dengan 30 GT. Kapal ini bukan sekadar produk teknologi, tetapi hasil kolaborasi lintas sektor antara Academician, Business, dan Government (ABG). Berbagai institusi turut berperan dalam proses ini, mulai dari UI, UNHAS, KEMENRISTEKDIKTI, INTI, LAPAN, serta mitra industri dan lembaga teknologi nasional lainnya. Semua hadir dengan satu cita-cita yang sama: memperkenalkan inovasi kapal pelat datar secara luas kepada nelayan Indonesia dan mendorong kemandirian industri maritim nasional. Kolaborasi ini membuktikan bahwa inovasi tidak lahir dari satu pihak saja, melainkan dari semangat kebersamaan untuk menciptakan solusi yang berdampak dan mampu menyelesaikan persoalan nyata.
Kapal pelat datar adalah simbol harapan. Harapan akan bangkitnya industri maritim nasional, meningkatnya kesejahteraan nelayan, dan terwujudnya visi Indonesia sebagai poros maritim dunia.
Karena laut kita kaya.
Maka di laut kita jaya.
Dan dari laut, kita sejahtera...
