← Semua artikel

Jurnal / Seri / 4 bagian

Komunitas Maritim Cerdas Indonesia

Dari laut yang luas dan lingkaran ketergantungan menuju gagasan membangun masa depan komunitas nelayan Indonesia.

Ilustrasi pendamping Komunitas Maritim Cerdas Indonesia

Bagian 1: Laut yang Luas, Hidup yang Sempit

Potret ketimpangan, ketergantungan, dan perjuangan nelayan Indonesia.

Pagi yang Sama, Nasib yang Belum Berubah

Matahari belum sepenuhnya terbit.

Di sebuah desa pesisir, seorang nelayan bersiap melaut. Ia memeriksa jaring, menyiapkan perlengkapan, lalu memastikan perahunya siap mengarungi lautan.

Sebentar lagi, ia akan menghabiskan berjam-jam di tengah gelombang, menghadapi cuaca dan ketidakpastian, menggantungkan harapan pada apa yang mungkin diberikan laut hari itu.

Baginya, melaut bukanlah petualangan.

Melaut adalah perjuangan untuk bertahan hidup.

Namun ada sesuatu yang barangkali tidak pernah kita bayangkan.

Perahu yang digunakannya bukan miliknya. Jaring yang dibawanya pun hasil pinjaman.

Bahkan sebelum ikan pertama berhasil ditangkap, ia sudah tahu kepada siapa hasil tangkapannya harus dijual. Bukan kepada pembeli yang menawarkan harga terbaik, melainkan kepada pihak yang selama ini memberinya modal untuk melaut.

Harga jualnya bukan ia yang menentukan. Pilihannya begitu terbatas.

Ketika sore tiba, setelah seharian bergulat dengan laut, belum tentu banyak yang tersisa untuk dibawa pulang kepada keluarganya.

Esok pagi, semuanya akan terulang kembali.

Pagi yang sama. Perjuangan yang sama. Dengan harapan yang hampir selalu sama: semoga hari ini ada cukup rezeki untuk keluarga di rumah.

Ia bekerja di laut yang begitu luas.

Namun ruang untuk menentukan masa depannya sendiri terasa begitu sempit.

Dan yang menyedihkan, kisah semacam ini bukanlah cerita tentang satu atau dua orang nelayan.

Ia mencerminkan persoalan yang telah lama membayangi kehidupan banyak keluarga nelayan di Indonesia.

Negeri Maritim yang Kaya, Nelayan yang Masih Berjuang

Indonesia dianugerahi kekayaan laut yang luar biasa.

Lebih dari 17.000 pulau tersebar di antara hamparan perairan Nusantara. Laut menjadi penghubung, sumber pangan, jalur perdagangan, sekaligus bagian tak terpisahkan dari kehidupan dan peradaban bangsa ini.

Kita bangga menyebut Indonesia sebagai bangsa maritim.

Kita berbicara tentang potensi perikanan, kekayaan sumber daya kelautan, dan masa depan ekonomi biru yang menjanjikan.

Namun di balik kebanggaan itu, ada kenyataan yang harus berani kita hadapi.

Jutaan nelayan menggantungkan hidup pada laut. Sebagian dari mereka masih menghadapi keterbatasan kepemilikan kapal, sulitnya akses permodalan, lemahnya posisi tawar dalam perdagangan hasil tangkapan, dan ketidakpastian pendapatan.

Bagi banyak keluarga nelayan, kemiskinan bukan sekadar persoalan rendahnya penghasilan. Ia dapat menjadi lingkaran ketergantungan yang berlangsung bertahun-tahun, bahkan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Inilah salah satu wajah dari apa yang dikenal sebagai kemiskinan struktural.

Sebuah keadaan ketika seseorang terus bekerja keras, tetapi sistem ekonomi dan keterbatasan akses di sekelilingnya membuat jalan menuju kesejahteraan begitu sulit.

Mereka bukan tidak bekerja. Bukan pula tidak memiliki keterampilan.

Banyak di antara mereka adalah pelaut tangguh yang memahami arah angin, membaca perubahan cuaca, mengenali musim, dan menguasai perairan melalui pengetahuan yang diwariskan lintas generasi.

Namun kerja keras dan keterampilan ternyata belum selalu cukup.

Sebab bekerja keras tidak otomatis berarti memiliki kendali atas hasil pekerjaan.

Ironisnya, mereka hidup berdampingan dengan kekayaan laut yang begitu besar, tetapi belum tentu memiliki kesempatan yang memadai untuk menikmati kesejahteraan darinya.

Sebuah pertanyaan pun terus mengusik pikiran kami:

Bagaimana mungkin mereka yang setiap hari mempertaruhkan hidup di laut justru masih harus berjuang begitu keras untuk mendapatkan kehidupan yang layak dari laut itu sendiri?

Semakin jauh kami mencoba memahami persoalan ini, semakin kami menyadari bahwa akar masalahnya tidak sesederhana yang terlihat. Barangkali persoalannya bukan karena laut kita kekurangan sumber daya.

Barangkali yang belum sepenuhnya kita bangun adalah akses yang lebih merata, berpihak, dan berkeadilan untuk memanfaatkannya.

Dan dari sanalah perjalanan pemikiran kami dimulai.

Sebuah perjalanan untuk memahami mengapa sebagian nelayan terus terjebak dalam ketergantungan, sekalipun mereka bekerja begitu keras untuk keluar darinya.

Bagian 2: Lingkaran Ketergantungan yang Sulit Diputus

Ilustrasi pendamping bagian 2

Ketika pertolongan menjadi ketergantungan, dan sebuah kegelisahan membawa kami mencari jalan menuju kemandirian nelayan.

Ketika Melaut Harus Dimulai dengan Meminjam

Untuk dapat melaut, seorang nelayan membutuhkan lebih dari sekadar keberanian dan keterampilan.

Ia membutuhkan kapal, alat tangkap, bahan bakar, dan biaya operasional. Singkatnya, ia membutuhkan modal.

Tetapi bagaimana dengan nelayan yang bahkan belum memiliki kapal? Yang penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sementara akses pembiayaan formal sulit dijangkau?

Bagi sebagian nelayan, pilihan yang tersedia begitu terbatas.

Mereka bergantung kepada pemberi modal informal, termasuk tengkulak atau juragan yang telah lama menjadi bagian dari rantai ekonomi nelayan tradisional.

Pinjaman itu memungkinkan mereka kembali melaut. Namun sering kali ada konsekuensi yang menyertainya.

Hasil tangkapan harus dijual kepada pemberi modal dengan harga yang telah ditentukan, atau melalui mekanisme perdagangan yang membuat posisi tawar mereka menjadi lemah.

Pendapatan yang diperoleh digunakan untuk kebutuhan keluarga, membayar kewajiban, dan membiayai perjalanan melaut berikutnya.

Ketika hasilnya tidak mencukupi, pinjaman kembali dibutuhkan.

Dan lingkaran itu pun berulang.

Meminjam. Melaut. Menangkap ikan. Menjual. Membayar. Lalu kembali meminjam.

Musim demi musim. Tahun demi tahun.

Nelayan terus bekerja, tetapi kesempatan untuk membangun kemandirian ekonominya seolah tak kunjung datang. Namun dalam perjalanan memahami persoalan ini, kami menemukan sebuah kenyataan yang justru membuat kami semakin lama merenung.

Ketika Ketergantungan Terasa Seperti Pertolongan

Dalam pengamatan dan survei lapangan yang kami lakukan, kami menemukan sesuatu yang tidak sepenuhnya sesuai dengan dugaan awal.

Sebagian nelayan ternyata tidak memandang para pemberi modal informal sebagai pihak yang semata-mata merugikan mereka.

Sebaliknya.

Bagi sebagian nelayan, mereka justru dianggap sebagai penolong. Bahkan, dalam keputusasaan menghadapi kebutuhan hidup, kehadiran mereka terasa seperti penyelamat.

Mengapa?

Karena ketika tidak ada pihak lain yang mampu atau bersedia membantu, merekalah yang menyediakan modal agar nelayan tetap dapat bekerja.

Mereka memberikan jalan keluar untuk hari itu, meskipun belum tentu membebaskan nelayan dari ketergantungan dalam jangka panjang.

Temuan ini mengubah cara kami memandang persoalan.

Kami menyadari bahwa ketergantungan tidak cukup diselesaikan dengan sekadar menyalahkan para tengkulak atau pemberi modal.

Sebab di balik hubungan ekonomi yang tidak seimbang, terdapat kebutuhan nyata yang belum mampu dijawab oleh sistem yang ada.

Barangkali persoalan paling mendasar bukan hanya siapa yang memberikan pinjaman, melainkan mengapa nelayan tidak memiliki cukup alternatif untuk menjalankan usahanya secara mandiri.

Dari sinilah pemikiran kami mulai bergerak lebih jauh.

Kami tidak lagi hanya melihat rendahnya harga jual ikan atau tingginya biaya melaut.

Kami mulai mempertanyakan sesuatu yang lebih mendasar: kepemilikan aset produktif yang menjadi fondasi kehidupan nelayan.

Dan dari berbagai pengamatan tersebut, satu persoalan terus muncul.

Banyak nelayan belum memiliki kapal penangkap ikan sendiri. Padahal kapal merupakan salah satu sarana utama yang menghubungkan nelayan dengan sumber penghidupannya.

Mereka boleh jadi memahami laut dengan sangat baik. Memiliki keterampilan yang diwariskan lintas generasi. Bahkan bekerja lebih keras daripada kebanyakan orang.

Namun selama akses terhadap sarana utama untuk bekerja masih bergantung kepada pihak lain, kemandirian ekonomi akan sulit diwujudkan.

Sebuah pertanyaan baru pun muncul:

Bagaimana jika kepemilikan kapal dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memutus lingkaran ketergantungan ini?

Pertanyaannya sederhana.

Namun jawabannya ternyata membawa kami pada tantangan yang tidak kalah besar.

Bagian 3: Ketika Cara Lama Tidak Lagi Cukup

Ilustrasi pendamping bagian 3

Selama berpuluh-puluh tahun, kapal kayu telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan nelayan Indonesia.

Di balik setiap kapal kayu, tersimpan pengetahuan, keterampilan, dan kearifan para pengrajin tradisional yang diwariskan lintas generasi.

Kami menghormati warisan itu.

Kapal kayu bukan sekadar sarana penangkapan ikan. Ia juga bagian dari sejarah dan identitas masyarakat maritim Indonesia.

Namun zaman terus berubah.

Di sejumlah daerah, ketersediaan kayu untuk pembangunan kapal semakin terbatas. Biaya material dan pengerjaan meningkat, waktu pembangunan dapat menjadi lebih panjang, sementara regenerasi pengrajin tradisional menghadapi tantangan tersendiri.

Bagi sebagian masyarakat nelayan yang sejak awal memiliki keterbatasan modal, keadaan ini semakin mempersulit kesempatan untuk memiliki kapal sendiri.

Di satu sisi, mereka membutuhkan kapal untuk memperbaiki kehidupan.

Di sisi lain, biaya pembangunan kapal justru menjadi penghalang untuk memilikinya.

Nelayan membutuhkan kapal agar dapat lebih mandiri. Namun untuk memiliki kapal, mereka terlebih dahulu membutuhkan kemampuan ekonomi yang sering kali belum mereka miliki.

Sebuah keadaan yang memperlihatkan betapa rumitnya lingkaran persoalan ini.

Sementara itu, kebutuhan terhadap armada penangkapan ikan yang aman, layak, terjangkau, dan dapat dibangun secara berkelanjutan terus ada.

Kami mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap biasa.

Apakah kita harus terus bergantung pada pendekatan yang sama, ketika keadaan sudah tidak lagi sama?

Apakah ada alternatif material dan metode pembangunan yang dapat membuat kapal lebih mudah diakses oleh masyarakat nelayan?

Dan dua pertanyaan yang paling mendasar terus mengusik pikiran kami:

Jika bukan kayu, lalu apa? Jika bukan cara lama, lalu bagaimana?

Ketika Pertanyaan Menjadi Awal Perjalanan

Kami belum memiliki semua jawabannya.

Namun semakin jauh kami memahami persoalan ini, semakin kuat keyakinan kami bahwa ada sesuatu yang harus berubah.

Sebab persoalan yang sedang kita hadapi sesungguhnya bukan hanya tentang bahan baku atau teknologi pembangunan kapal.

Ada kehidupan manusia di baliknya.

Ada keluarga yang menggantungkan harapan. Ada generasi yang masa depannya ikut dipertaruhkan.

Dan barangkali, selama ini kita terlalu sibuk memikirkan bagaimana membangun lebih banyak kapal, tetapi belum cukup jauh memikirkan bagaimana kapal-kapal itu dapat mengubah kehidupan orang-orang yang menggunakannya.

Dari kegelisahan itulah, sebuah perjalanan baru dimulai.

Perjalanan mencari solusi yang bukan hanya dapat diwujudkan secara teknis, tetapi juga masuk akal secara ekonomi dan relevan dengan kebutuhan masyarakat pesisir.

Sebuah perjalanan yang perlahan mengubah cara kami memahami arti sebuah kapal.

Karena pada akhirnya, kami mulai menyadari sesuatu.

Persoalan sesungguhnya bukan hanya bagaimana nelayan dapat memiliki kapal.

Tetapi bagaimana kepemilikan dan pengelolaan kapal dapat menjadi awal dari perubahan nasib mereka.

Dari sanalah kami mulai menemukan arah perjuangan kami.

Sebuah gagasan yang mempertemukan teknologi, kemandirian, dan harapan akan masa depan masyarakat pesisir.

Sebab ternyata, apa yang ingin kami bangun jauh lebih besar daripada kapal itu sendiri.

Bagian 4: Kami Sedang Membangun Masa Depan Komunitas Nelayan Indonesia

Ilustrasi pendamping bagian 4

Sebuah Gagasan yang Lahir dari Kegelisahan

Ada kalanya sebuah perubahan besar tidak dimulai dari penemuan yang luar biasa.

Ia justru berawal dari pertanyaan sederhana yang terus mengusik pikiran.

Mengapa mereka yang hidup begitu dekat dengan kekayaan laut justru masih harus berjuang begitu keras untuk menikmati kesejahteraan darinya?

Dalam perjalanan memahami kehidupan masyarakat nelayan, kami menemukan persoalan yang jauh lebih dalam daripada sekadar keterbatasan armada penangkapan ikan.

Ada ketergantungan ekonomi, keterbatasan kepemilikan kapal, sulitnya akses permodalan, dan lemahnya posisi tawar yang membuat sebagian keluarga nelayan sulit keluar dari persoalan ekonomi lintas generasi.

Kami mulai menyadari bahwa menyediakan kapal saja belum tentu menyelesaikan persoalan.

Sebab kemandirian tidak semata-mata ditentukan oleh kepemilikan aset, tetapi juga oleh kemampuan mengelola usaha, mengakses peluang, dan menentukan masa depan sendiri.

Dari sanalah cara pandang kami mulai berubah.

Kami tidak lagi sekadar bertanya bagaimana menghadirkan kapal yang lebih terjangkau.

Kami mulai mempertanyakan sesuatu yang lebih mendasar.

Bagaimana jika sebuah inovasi kapal dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kemandirian sebuah komunitas?

Dari pergumulan panjang antara kenyataan di lapangan, keterbatasan yang kami temui, dan harapan akan perubahan, lahirlah sebuah gagasan:

KOMUNITAS MARITIM CERDAS INDONESIA.

Bukan sekadar program pengadaan kapal atau bantuan sosial, melainkan sebuah gagasan membangun ekosistem maritim yang menempatkan masyarakat pesisir sebagai pelaku utama perubahan.

Ekosistem yang menghubungkan teknologi, akses terhadap aset produktif, peningkatan kapasitas masyarakat, dan peluang ekonomi yang lebih berkeadilan. Kami percaya bahwa pemberdayaan bukan hanya tentang apa yang diberikan kepada masyarakat.

Tetapi tentang kemampuan yang tumbuh dan tetap mereka miliki setelah proses pemberdayaan itu berjalan.

Kapal Pelat Datar: Teknologi yang Dipilih untuk Menjawab Kebutuhan

Di tengah perkembangan teknologi perkapalan yang semakin maju, kami justru melihat peluang pada sebuah pendekatan yang relatif sederhana.

Kapal Pelat Datar Berbahan Baja.

Melalui pendekatan desain dan metode fabrikasi yang tepat, teknologi ini menawarkan peluang untuk menyederhanakan tahapan tertentu dalam pembangunan kapal, mengembangkan produksi yang lebih terstandar, serta menghadirkan alternatif material di tengah tantangan ketersediaan kayu.

Tentu saja, kesederhanaan konstruksi tidak berarti mengabaikan keselamatan, kekuatan struktur, stabilitas, maupun kelayakan operasional kapal.

Bagi kami, sebuah inovasi harus dapat dipertanggungjawabkan dan dibuktikan manfaatnya.

Kami tidak memilih pendekatan ini karena ingin menghadirkan teknologi yang paling spektakuler.

Kami melihat potensinya untuk membuka akses yang lebih luas terhadap armada penangkapan ikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat nelayan.

Sebab teknologi yang baik bukan selalu teknologi yang paling rumit.

Teknologi yang baik adalah teknologi yang mampu menjawab persoalan manusia secara nyata.

Namun semakin jauh perjalanan ini, semakin kami menyadari bahwa teknologi kapal hanyalah salah satu bagian dari solusi.

Karena sesungguhnya, kapal hanyalah awal.

Rasa Memiliki: Fondasi yang Tidak Dapat Dibeli

Bayangkan sebuah kapal berhasil dibangun dan diserahkan kepada sekelompok nelayan.

Apakah persoalannya selesai?

Belum tentu.

Siapa yang akan merawatnya? Bagaimana usaha dikelola? Bagaimana hasil dibagikan? Dan bagaimana memastikan kapal tersebut tetap memberikan manfaat dalam jangka panjang? Pertanyaan-pertanyaan itu membawa kami pada sebuah kesadaran penting.

Kepemilikan kapal dapat membuka kesempatan. Tetapi kemampuan mengelola kesempatan itulah yang menentukan keberlanjutannya.

Karena itulah kami ingin melibatkan masyarakat nelayan lebih jauh dan lebih dalam.

Mereka bukan hanya pengguna kapal atau penerima manfaat, tetapi bagian dari proses merumuskan kebutuhan, mengembangkan solusi, dan mengelola usaha bersama.

Sebab dari keterlibatan tersebut dapat tumbuh sesuatu yang tidak bisa dibeli hanya dengan anggaran pembangunan.

Rasa memiliki.

Sense of belonging.

Ketika sebuah kapal tidak lagi dipandang sebagai bantuan yang datang dari luar, melainkan sebagai bagian dari usaha dan masa depan yang dibangun bersama, tumbuh alasan untuk merawat, menjaga, dan mengembangkannya.

Rasa memiliki itu perlu ditopang oleh hak dan tanggung jawab yang jelas, tata kelola yang adil, serta partisipasi yang nyata.

Inilah fondasi yang ingin kami bangun.

Bukan ketergantungan baru kepada penyedia bantuan atau teknologi, melainkan kemampuan untuk berdiri di atas kaki sendiri.

Kami tidak ingin nelayan selamanya membutuhkan kami. Kami ingin suatu hari mereka mampu melangkah lebih jauh dengan kekuatan yang telah mereka bangun sendiri.

Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Armada

Kami memahami bahwa cita-cita sebesar ini tidak mungkin diwujudkan oleh satu pihak atau satu teknologi saja.

Kemandirian nelayan membutuhkan ekosistem yang saling mendukung.

Akses terhadap kapal perlu diikuti pembiayaan yang sehat, peningkatan keterampilan, pengelolaan usaha yang transparan, pemeliharaan armada, serta hubungan perdagangan yang mampu memperkuat posisi tawar nelayan.

Karena itu, kami membuka ruang kolaborasi antara masyarakat pesisir, inovator, pelaku usaha, lembaga pembiayaan, perguruan tinggi, pemerintah, dan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap masa depan ekonomi maritim Indonesia.

Kami membayangkan komunitas yang tidak lagi hanya berjuang agar dapat melaut esok pagi, tetapi juga mampu merencanakan kehidupannya untuk tahun-tahun yang akan datang. Kami tahu perjalanan ini tidak sederhana.

Akan ada tantangan teknologi, pembiayaan, kelembagaan, dan dinamika sosial yang tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Kapal Pelat Datar juga bukan satu-satunya jawaban atas seluruh persoalan nelayan.

Namun perubahan besar tidak selalu harus dimulai dengan menyelesaikan semuanya sekaligus.

Ia dapat dimulai dari satu langkah yang tepat, satu kesempatan baru, dan keberanian untuk membangun sesuatu bersama masyarakat.

Karena nelayan bukan sekadar penerima manfaat pembangunan.

Nelayan harus menjadi pelaku utama perubahan.

Suatu Hari, Pagi yang Berbeda

Sekarang, mari kita kembali kepada nelayan yang mengawali perjalanan cerita ini.

Nelayan yang berangkat sebelum matahari terbit, melaut dengan perahu pinjaman, dan menjual hasil tangkapannya tanpa memiliki banyak pilihan.

Bayangkan jika suatu hari, pagi yang sama datang dengan cerita berbeda.

Angin laut masih berembus seperti biasanya. Gelombang masih bergerak menuju pantai. Dan laut tetaplah laut yang selama ini dikenalnya.

Tetapi kali ini, ada sesuatu yang berubah.

Kapal yang akan membawanya melaut adalah miliknya sendiri, atau aset usaha bersama yang benar-benar dimiliki dan dikelola komunitasnya.

Ia memiliki kemampuan untuk mengoperasikan dan merawatnya, kesempatan untuk mengelola hasil usahanya, serta pilihan yang lebih luas untuk menjual hasil tangkapannya dengan harga yang adil.

Bayangkan jika jerih payahnya mulai menjadi fondasi kesejahteraan keluarga, bukan sekadar untuk membayar pinjaman dan bertahan hingga perjalanan melaut berikutnya.

Anak-anaknya tumbuh dengan kesempatan hidup yang lebih luas.

Dan jika suatu hari mereka memilih meneruskan profesi orang tuanya, pilihan itu lahir dari kebanggaan, bukan keterpaksaan.

Mereka tidak harus meninggalkan kehidupan pesisir untuk menemukan masa depan.

Karena masa depan itu mulai dapat dibangun dari tempat mereka dilahirkan. Laut yang dahulu hanya menjadi tempat bertahan hidup, perlahan berubah menjadi ruang untuk membangun harapan.

Itulah pagi yang ingin kami lihat.

Bukan hanya di satu desa, tetapi di banyak pesisir Indonesia.

Kami Tidak Sedang Membangun Kapal

Pada akhirnya, perjalanan ini membawa kami pada sebuah pemahaman sederhana.

Baja dapat dipotong. Pelat dapat disambung. Lambung dapat dibentuk. Dan sebuah kapal dapat diselesaikan pembangunannya.

Namun membangun kemandirian manusia adalah pekerjaan yang jauh lebih panjang.

Membangun kepercayaan membutuhkan waktu. Membangun rasa memiliki membutuhkan keterlibatan. Dan membangun kesejahteraan membutuhkan sistem yang memungkinkan manusia tumbuh dengan martabat.

Kami mungkin memulai perjalanan ini dari sebuah pertanyaan tentang alternatif teknologi pembangunan kapal.

Tetapi kami tidak ingin berhenti pada kapal.

Kami ingin melihat keluarga-keluarga nelayan perlahan keluar dari lingkaran ketergantungan ekonomi.

Kami ingin melihat masyarakat pesisir mampu mengelola sumber penghidupannya dengan lebih mandiri.

Dan kami ingin melihat generasi berikutnya tumbuh tanpa harus mewarisi keterbatasan yang sama.

Kami menyadari bahwa jalan menuju cita-cita itu masih panjang. Tidak setiap langkah akan berjalan seperti yang diharapkan.

Tetapi kami percaya bahwa sebuah perubahan besar selalu membutuhkan keberanian untuk memulainya.

Dan jika kelak sebuah Kapal Pelat Datar berlayar meninggalkan pantai, kami berharap yang ikut berlayar bersamanya bukan hanya nelayan dan perlengkapan untuk mencari ikan.

Tetapi juga harapan akan kemandirian, kehidupan yang lebih bermartabat, dan masa depan yang lebih baik.

Sebab di balik setiap kapal yang ingin kami bangun, ada manusia yang ingin kami lihat tumbuh dan berdaya. Ada keluarga yang ingin kami lihat hidup lebih sejahtera. Dan ada generasi yang kami harapkan memiliki masa depan lebih cerah. Kami tidak sedang membangun kapal.

Kami sedang membangun masa depan komunitas nelayan Indonesia.

Itulah cita-cita yang melahirkan gagasan Komunitas Maritim Cerdas Indonesia.

Sebuah mimpi yang mungkin masih panjang perjalanannya, tetapi selalu layak diperjuangkan.

Semoga Tuhan merahmati mimpi besar kami.