← Semua artikel

Jurnal / Cerita lapangan

Langkah Awal Kami Mewujudkan Komunitas Maritim Cerdas Indonesia: Komunitas Nelayan Pulau Untung Jawa

Kisah pelatihan masyarakat Pulau Untung Jawa untuk membangun kapal sendiri dan menemukan keyakinan: kami bisa.

Ilustrasi pendamping Langkah Awal Kami Mewujudkan Komunitas Maritim Cerdas Indonesia: Komunitas Nelayan Pulau Untung Jawa

Pada tahun 2015, di Pulau Untung Jawa, kami tidak datang untuk memberi bantuan. Kami datang untuk melakukan sesuatu yang berbeda.

Kami mengajak komunitas nelayan lokal… membangun kapal mereka sendiri.

Awalnya mereka ragu. “Pak, kami ini kelompok nelayan yang ngerti kayu. Dari jaman kakek kami pakainya kapal kayu… kami bukan tukang kapal baja. Kami ga ngerti baja.” Masuk akal.

Selama puluhan tahun, mereka membangun kapal dari kayu. Baja adalah dunia yang berbeda.

Tapi kami percaya satu hal:

Yang mereka butuhkan bukan teknologi.

Tapi akses dan kesempatan untuk menguasai teknologi.

Teknologi kapal yang sederhana, namun tetap andal.

Kami lakukan pendekatan secara konsisten, memastikan mereka nyaman dan terbuka untuk membicarakan hal baru. Kami terus memikirkan strategi penjangkauan yang efektif. Syukurnya kami punya mentor yang memang ahli dalam penjangkauan komunitas sosial akar rumput.

Sampai akhirnya mereka bersedia. Membuka diri untuk belajar. Kami pilih 3 kandidat terbaik.

Bukan yang paling pintar dan menonjol, tapi yang bersedia dan bersemangat untuk mewujudkan agenda ini.

Akhirnya, mereka belajar. Selama 3 bulan, kami mempersiapkan mereka. Kami latih mereka memahami gambar, menyusun, memotong, dan mengelas pelat, sampai merakit kapalnya.

Kami sediakan trainer terlatih dan berpengalaman, yang kami pilih dari orang dengan latar belakang yang kurang lebih sama.

Yang menarik, dalam perjalanan pelatihan tersebut, seringkali mereka memberikan feedback, terkait ergonomis dan kebiasaan mereka ketika menangkap ikan dilaut. Kamipun turut belajar.

Sampai akhirnya…

sebuah kapal lahir.

Bukan dari pabrik.

Bukan dari vendor.

Tapi dari tangan mereka sendiri. Dan di momen itu, kami menyadari sesuatu:

Yang berubah bukan hanya kapalnya.

Tapi cara mereka melihat diri mereka sendiri.

Selama ini kita sering salah fokus. Kita pikir solusi untuk nelayan adalah bantuan kapal, subsidi alat tangkap dan modal kerja, sampai pada program distribusi. Padahal masalah utamanya bukan itu.

Masalahnya adalah:

Mereka tidak berada dalam sistem yang membuat mereka berdaya.

Melalui pendekatan ini, kami belajar, Kalau ingin perubahan besar terjadi…

Jangan mulai dari “memberi”. Mulai dari membangun kemampuan.

Hari itu, kapal 5 GT itu diluncurkan.

Bagi banyak orang, itu hanya kapal baru. Tapi bagi mereka…

Itu adalah bukti bahwa: “Kami bisa.”

Dan keyakinan kami,

Nelayan dan masyarakat pesisir adalah modalitas budaya bahari Indonesia yang powerful. dari sinilah masa depan maritim Indonesia akan dimulai sebagai kekuatan maritim dunia. Bukan dari teknologi tinggi.

Tapi dari tangan komunitas nelayan yang diberi kesempatan.